Rabu, 27 Maret 2013

“REPRODUKSI SEKSUAL PADA JAMUR”



Reproduksi seksual yang terjadi pada fungi mempunyai pola yang sama dengan eukariot tingkat tinggi. Prosesnya diawali dengan terjadinya plasmogami (penyatuan sitoplasma) dari dua individu yang cocok dimana sitoplasma yang bersatu tersebut masing-masing membawa inti yang terkandung di dalamnya. Kariogami adalah penyatuan atau fusi nucleus dari kedua individu untuk membentuk nucleus yang diploid (2n). Kariogami dapat langsung terjadi setelah plasmogami tetapi dapat pula ditunda. Penundaan kariogami ini sering terjadi pada beberapa fungi tingkat tinggi, sehingga dalam perkembangannya pada miselium dapat dilihat sel-sel yang binukleat (berinti dua).
 Setelah terjadi kariogami, cepat atau lambat akan terjadi meiosis yang akan akan menghasilkan materi genetic, reduksi (dari 2n menjadi n) dan pembelahan menghasilkan empat sel haploid. Sel-sel reproduksi yang dihasilkan dengan cara ini disebut spora seksual (karena dihasilkan melalui proses penyatuan dua inti dari individu yang berbeda). Spora seksual yang dihasilkan dari peleburan dua inti tersebut, terbentuk labih jarang, lebih kemudian dan dalam jumlah yang lebih sedikit disbanding spora aseksual.
 Disamping itu spora semacam itu terbentuk hanya dalam keadaan tertentu saja. Hal ini menyebabkan banyak fungi yang sampai saat ini belum diketahui reproduksi atau spora seksualnya. Spora merupakan unit reproduktif mikroskopik, spora dibentuk didalam badan buah. Spora jamur mirip sebagai sesuatu yang analog dengan biji pada tumbuhan yaitu sebagai alat pertumbuhan, meskipun semua bagian jamur mampu tumbuh. Spora jamur dapat terbentuk karena proses perkawinan (seksual) maupun tidak (aseksual). Spora seksual diproduksi dengan terjadinya peleburan (fusi) dua sel.
Dalam reproduksi seksual ini, ada 4 jenis spora seksual, yaitu:
a.         Askospora

·            Karakteristik
-           Spora yang terbentuk dari kelas jamur Ascomycetes yang dihasilkan dari tubuh buah
-           Spora bersel satu
-           Spora terbentuk dibadan- badan sel yang berupa kantung/ pundi- pundi (askus)
-           Dalam setiap kantung, di dalamnya terdapat empat atau delapan spora
-           Spora diproduksi secara internal, di dalam kantung yang disebut ascus

·            Mekanisme Pembentukan Spora
 

Gb. Proses pembentukan Askospora secara seksual
Bersel satu
Konjugasi antara dua gametangia (misalnya dua sel Sacharomyces, berfungsi sebagai gametangia), menghasilkan zigot diploid (2n). Zigot membesar menjadi askus. Di dalam askus terbentuk delapan askospora yang tersusun dalam dua jalur atau satu jalur. Di dalam askus terjadi meiosis dan terbentuk empat askospora haploid (n).


2) Bersel banyak
a) Hifa membentuk antheridium dan askogonium (oogonium).
b) Askogonium membentuk tonjolan yang disebut trikogen yang menghubungkan antara askogonium dan antheridium.
c) Inti-inti askogonium berpasangan dan inti tersebut membelah membentuk hifa yang berisi satu pasang inti (hifa dikarion= hifa berinti dua).
d) Hifa dikarion kemudian memanjang dan membentuk miselium yang akan membentuk badan buah.
e) Selanjutnya ujung-ujung dikarion membentuk askus.
f) Dua inti sel bersatu, kemudian mengadakan pembelahan meiosis,sehingga terbentuk askospora yang haploid.

·            Contoh:
a. Sacharomyces cereviceae, untuk pembuatan roti.
b. Penicillium chrysogenum, untuk pembuatan antibiotik penisilin.
c. Penicillium notatum, untuk pembuatan antibiotik penisilin.
d. Neurospora sitophilla, untuk pembuatan oncom.
e. Neurospora crassa, untuk penelitian genetika, karena daur hidup seksualnya hanya sebentar.


a.         Basidiospora

·            Karakteristik
-           Spora yang terbentuk dari kelas jamur Basidiomycota pada tubuh buahnya (basidiokarp). Di dalam basidiokarp terdapat basidium.
-           Tiap basidium menghasilkan basidiospora sebanyak 2-6.
-           Spora diproduksi eksternal, di ujung sel-sel khusus yang disebut basidia.
-           Tipe kelamin basidiospora terdiri atas 2 negatif dan 2 positif.
-           Akumulasi basidiospora dapat dilihat dari warnanya, yaitu seperti tepung halus berwarna coklat, hitam, ungu, kuning, dan sebagainya

·            Mekanisme Pembentukan Spora
 





Gb. Proses pembentukan Basidiospora secara seksual


Keterangan:
Ø  Hifa (+) dan hifa (-) yang berinti haploid (n) berkecambah dari basidospora. Kedua hifa ini saling bersinggungan.
Ø   Plasmogami terjadi antara hifa (+) dan hifa (-) sehingga inti salah satu hifa pindah ke hifa lainnya membentuk hifa dengan dua inti haploid (n) yang berpasangan (dikariotik).
Ø  Hifa haploid dikariotik akan tumbuh menjadi miselium haploid dikariotik.
Ø  Miselium dikariotik tumbuh dan membentuk badan buah yang disebut basidiokarp.
Ø  Pada ujung- ujung hifa basidiokarp terjadi kariogami sehingga membentuk basidium yang berinti diploid (2n).
Ø  Inti diploid dalam basidium akan membelah secara meiosis menjadi empat inti yang haploid (n).
Ø  Basidium membentuk empat tonjolan yang disebut sterigma pada ujungnya.
Ø  Satu inti haploid pada basidium kemudian masuk dalam salah satu sterigma dan berkembang menjadi basidiospora.
Ø  Jika basidiospora terlepas dari basidium dan jatuhpada tempat yang sesuai, akan tumbuh menjadi hifa yang haploid.

·            Contoh :
a)      Volvariela volvacea (jamur merang)
b)      Auricularia polytricha (jamur kuping)
c)      Pleurotus sp (jamur tiram)
d)     Polyporus giganteus (jamur papan)
e)      Amanita phaloides hidup pada kotoran ternak dan menghasilkan racun yang mematikan
f)       Puccinia graminis (jamur karat) parasit pada tumbuhan graminae (jagung)
g)      Ustilago maydis parasit pada tanaman jagung
h)      Ganoderma aplanatum (jamur kayu)




a.         Zygospora

·            Karakteristik
-              Spora besar berdinding tebal
-              Strukturnya berlapis oleh cadangan makanan, yang digunakan untuk mencukupi nutrisi hingga diperoleh keadaan yang sesuai untuk pertumbuhan
-               Terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi (disebut juga gametangia) saling melebur
-              Spora seksual yang dihasilkan dalam wadah yang berbentuk sporongium
-              Dapat bertahan dalam kondisi kering selama berbulan- bulan, karena:
§  Memiliki cadangan air di dalam tubuhnya
§  Dinding sel mengalami penebalan
§  Mengalami masa dorman
§  Dinding sel tersusun dari zat kitin
§  Sedang melangsungkan pembelahan meiosis
 

·            Mekanisme Pembentukan Spora

 
 Gb. Proses pembentukan Zyogospora secara seksual pada Mucor hiemalis


Keterangan:

Ø  Jika dua tipe ini jodoh secara seksual serasi, yaitu + dan –
Ø  Melalui udara kedua zigosfor yang berbeda ini akan saling mendekat sampai bersentuhan
Ø  Dinding masing- masing zigosfor akan melebur di titik sentuhan dan zigosfor akan memendek
Ø  Pada titik atau tempat sentuhan zigosfor akan membengkak menjadi progametangium yang berinti banyak
Ø  Setiap progametangium akan berkembang menjadi gemetangium dengan membentuk suatu sekat atau dinding sel yang memisahkannya dari bagian zigosfor yang terdekat, yang kemudian dinamakan suspensor
Ø  Dinding yang memisahkan kedua gametangia kemudian mengalami lisis dan kedua gametangia melebur menjadi zigospora
Ø  Dinding zigospora akan menebal dan menjadi hitam atau coklat tua karena pembentukan pigmen melanin dan sporopolein
Ø  Ada dugaan, bahwa inti- inti dari mating type berpasangan terlebih dahulu, baru kemudian terjadi kariogami, sedangkan yang tidak berpasangan akan mengalami degenerasi
Ø  Proses fusi (peleburan) dapat terjadi langsung atau ditunda sebentar hingga selanjutnya terjadi proses miosis sehingga zigospore berkecambah

·            Contoh:
1)      Genera mucor
2)       Phicomyces
3)      Rhizopus






a.      Oospora

·            Karakteristik
-                 Spora yang dibentuk oleh zigot yang berdinding tebal
-                 Spora seksual yang dibentuk dari hasil arkegonium dan anteridium (peleburan dari sel jantan dan sel betina)
-                 Spora ini terbentuk di dalam struktur betina khusus yang disebut oogonium
-                 Spora ini diproduksi oleh Oomycota walaupun juga ditemukan pada Monoblepharidales ( Chytridiomycota

·            Mekanisme Pembentukan Spora


Ø  Pembentukan satu atau lebih oospora di dalam gametangium yang lebih besar (oogonium
Ø  Setelah peleburan yaitu penerimaan inti dari anteridium oleh calon oospora, calon oospora itu menjadi berdinding tebal, ini yang dinamakan oospora
Ø  Inti anteridium yang haploid akan melebur dengan inti oogonium yang haploid juga dan kemudian terjadi pembelahan secara miosis sehingga oospora yang dihasilkan dalam fertilisasi bersifat diploid
Ø  Dalam perkembangannya dinding oospora yang tebal akan berkembang menjadi cadangan makanan yang umumnya berupa lapisan lipid
Ø  Di dalam dinding peronospora sebelah luar oospora dilindungi oleh periplasma, setelah oospora keluar dari oogonium, oospora sering membutuhkan waktu sebelum akhirnya dapat menjadi oospora yang masak
Ø  Oospora yang belum masak mampu bertahan dalam keadaan tidak aktif pada waktu yang lama hingga menemukan keadaan yang cocok untuk pertumbuhannya

·            Contoh:

1.      Saprolegnia sp ; hidup saprofit pada bangkai ikan, serangga darat maupun serangga air
2.      Phytophora infestans ; penyebab penyakit busuk pada kentang




 




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar